Ketentuan Masa ‘Iddah Kematian · 2:234–235

2:234

وَٱلَّذِينَ يُتَوَفَّوۡنَ مِنكُمۡ وَيَذَرُونَ أَزۡوَٰجٗا يَتَرَبَّصۡنَ بِأَنفُسِهِنَّ أَرۡبَعَةَ أَشۡهُرٖ وَعَشۡرٗاۖ فَإِذَا بَلَغۡنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡكُمۡ فِيمَا فَعَلۡنَ فِيٓ أَنفُسِهِنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ٢٣٤

Wahai kaum mukmin, jika salah seorang di antara kalian mati dan meninggalkan istri, maka hendaklah istrinya ber‘iddah selama empat bulan sepuluh hari. Apabila para janda telah selesai masa ‘iddahnya, maka tidak berdosa bagi para wali janda itu membiarkan para janda itu berdandan dengan cara yang baik. Allah Maha Mengetahui keinginan para janda yang berdandan itu.

Baca dalam Surah Al-Baqarah →

Tema pada ayat ini